Faktor Penyebab Munculnya 'Penyakit' yang Menyerang Milenial

Faktor Penyebab Munculnya 'Penyakit' yang Menyerang Milenial

Faktor Penyebab Munculnya 'Penyakit' yang Menyerang Milenial

Generasi milenial memang banyak memberi perhatian dengan segala tingkah lakunya. Akan tetapi, yang paling mengkhawatirkan adalah, jika kesehatan milenial mengalami penurunan, dikarenakan bertambahnya usia dan gaya hidup, Survei dari Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA).

Fakta lain menyebutkan, penelitian ini menunjukkan 10 penyakit generasi milenial yang timbul karena kurang memperhatikan banyak hal, seperti:

Depresi, substance use disorder (gangguan penggunaan zat), kecanduan alkohol, hipertensi, hiperaktif, gangguan psikotik, penyakit Crohn dan kolitis ulseratif, kolesterol tinggi, merokok aktif dan diabetes tipe 2.

Menurut beberapa ahli kesehatan menyebutkan, penyakit yang menyerang milenial ini memang tidak begitu menakutkan, akan tetapi akan berdampak pada kehidupannya di masa datang. Tercatat dalam data pada 2017, milenial berusia 34 - 36 tahun, cenderung tidak menjaga kesehatan daripada generasi X di bawah usia tersebut pada data 2014.

Selain itu, melalui survei pada 2017, sekitar 83 persen dari sebanyak 55 juta kaum muda mengaku sudah menjalani berbagai pola hidup sehat. Namun ternyata, masih banyak yang belum bisa menghindari godaan, jadi belum dapat melakukannya dengan konsisten.

Faktor Penyebab Munculnya 'Penyakit' yang Menyerang Milenial

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa, kaum milenial akan lebih mudah dipengaruhi oleh berbagai hal negatif. Karena, terkadang beberapa dari merekamasih belum bisa berpikir panjang.

Berikut ini merupakan faktor yang menyebabkan munculnya 'penyakit' yang mudah menyerang milenial, antara lain:

1. Kemajuan Teknologi

Oleh karena melesatnya kemajuan teknologi, menjadikan kaum milenial yang pertama merasakan zaman tersebut. Hal ini juga dibuktikan dengan cepatnya mereka mempelajari banyak hal hanya tanpa harus berkomunikasi secara langsung.

Akibat buruknya, mereka jadi kurang memahami ekspresi saat berkomunikasi secara langsung. Maka akan sulit untuk mengetahui bagaimana emosi diri sendiri dan lawan bicara. Kesadaran emosional itulah yang secara medis disebut dengan alexithymia, yaitu sulitnya memahami pikiran dan perasaan.

2. Paparan dari Media

Cepat menyebarnya berita melalui media, bahkan selama 24 jam penuh. Inilah yang menyebabkan kaum milenial dapat membaca berita apapun tanpa menyaringnya terlebih dahulu. Maka, berita-berita berbau negatif pun bisa secara bebas dibaca.

Seperti misalnya berita tentang terorisme, pembunuhan, perampokan, dan sebagainya. Hal tersebut sangat sulit didapatkan generasi sebelumnya. Itu sebabnya, banyak generasi milenial lebih mudah mengalami ketakutan, keputuasaan, kesepian, dan berbagai hal negatif yang menurunkan kepercayaan diri.

3. Kurangnya Kedekatan dengan Keluarga

Fakta mengejutkan yang terjadi beberapa tahun ke belakang adalah, mayoritas orang tua akan bekerja lebih keras karena tuntutan finansial. Hal semacam inilah yang menjadi alasan, mengapa para orang tua sangat jarang menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka.

Zaman ini tentu saja berbeda dengan zaman generasi sebelumnya, di mana para orang tua selalu bisa membersamai anak-anak mereka dalam berbagai keadaan, susah maupun senang, sehingga orang tua dapat mengajarkan berbagai hal positif dan lebih dapat memperhatikan tingkah laku anak-anaknya.

4. Terlampau Sibuk

Tingkat emosional seseorang pasti cenderung berubah saat merasa kelelahan. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena terlalu banyaknya pekerjaan dikantor, atau terdapat masalah-masalah tertentu. Tidak hanya meningkatnya emosional, namun juga dapat menimbulkannya masalah pada kesehatan.

Hal ini secara perlahan akan menyerang mental sejak usia remaja. Meningkatnya stres bahkan hingga depresi. Risiko inilah yang harusnya dihindari generasi milenial.

Ada banyak cara mencegah 'penyakit' generasi milenial ini timbul. Seperti, sebisa mungkin mengurangi paparan media, mengikuti komunitas untuk mengembangkan diri, lebih sering berkumpul dengan keluarga, lebih selektif dalam memilih teman, hindari pergaulan bebas, dan hal-hal positif lainnya.

Namun, jika mental generasi milenial sudah terlanjur terpengaruh hingga menyebabkan depresi, ada baiknya konsultasikan masalah ini pada psikolog. Dapat pula, melakukan langkah preventif. Semoga masalah pada milenial saat ini dapat juga mendapatkan fasilitas pencegahan rutin, danbukan hanya ke dokter saat sedang sakit saja.

Semoga artikel ini dapat membuka wawasan siapa pun, terutama generasi milenial. agar lebih selektif menjalakan kehidupan di zaman teknologi ini.


Referensi kesehatan oleh dr. Yurika Elizabeth Susanti dalam Halodoc

Posting Komentar

0 Komentar

Ad Code

Responsive Advertisement